“Meskipun jenis baru di Indonesia didominasi hasil pemisahan jenis, ada juga jenis yang merupakan temuan baru,” kata Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia, dalam sebuah pernyataan pada laman resminya.
Contoh spesies baru dari hasil pemisahan jenis adalah sempidan merah Kalimantan (Lophura pyronota). Burung yang sebelumnya dimasukkan dalam jenis sempidan merah (Lophura erythrophthalma) ini tersebar di Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan.
Hasil analisis terbaru menunjukkan bahwa sempidan di Kalimantan memiliki perbedaan. Warna bulu lehernya abu-abu pucat, sementara di Sumatera dan Semenanjung Malaysia berwarna biru gelap mengkilat. Selain itu, sempidan di Kalimantan memiliki corak garis-garis putih tebal dari leher sampai bagian tengah perut, serta pada bagian belakang leher hingga bulu mantelnya.

Adapun spesies yang benar-benar baru, Jihad mencontohkan, antara lain serak Seram (Tyto almae). Sayangnya, masih sangat sedikit informasi yang diketahui tentang burung hantu endemis yang tinggal di Pulau Seram, Maluku, ini. Badan konservasi dunia IUCN memasukkan serak Seram dalam kategori data deficient alias masih minim data.
Penambahan 61 spesies baru ini menempatkan Indonesia pada posisi keempat dunia dalam hal kekayaan jenis burung. Sedangkan dalam hal endemisitas, Indonesia tetap paling unggul ketimbang negara-negara lain. Bahkan 75 persen jenis baru yang diakui pada tahun ini merupakan jenis endemis.
Dengan jumlah spesies 426 dan mengalami penambahan 46 spesies ketimbang tahun lalu, hal ini mencatatkan kekayaan khazanah yang semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara dengan jenis burung endemis terbanyak sejagat.
Sumber : http://www.isigood.com/wawasan/dengan-1666-spesies-burung-indonesia-menjadi-negara-peringkat-ke-4-di-dunia-dalam-hal-kekayaan-jenis-burung/
0 komentar:
Posting Komentar